Archive for the Category »obyek wisata bali «

Musim Hujan, Omzet Pedagang Pasar Seni Turun

Sepinya jumlah pelancong dalam negeri pasca liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), yang dibarengi dengan seringnya turun hujan membuat omzet pedagang di pasar seni Guwang Sukawati Gianyar ini mengalami penurunan yang cukup drastis. Penurunan jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke pasar itu, telah dirasakan sejak tiga hari belakangan ini.

“Kalau selama liburan yang disertai dengan membludaknya jumlah kunjungan wisatawan domestik, omzet pedagang di sini naik tajam dari biasanya dengan rata-rata Rp 2 juta per hari. Namun, sekarang turun drastis menjadi Rp 300.000 sampai Rp 500.000 per hari. Jumlah ini pun sudah tergolong cukup besar di saat sedang sepi,” Terang seorang pedagang aneka barang kerajinan di pasar seni Guwang, Rabu (13/1) kemarin.

Dijelaskan,memasuki minggu kedua di Januari jumlah pengunjung yang umumnya wisatawan domestik asal Jawa sudah menunjukkan penurunan sehingga, suasana pasar yang selama liburan Nataru sangat ramai sekarang menjadi sepi. Kendati ada dua atau tiga buah bus yang membawa rombongan dengan jumlah lebih dari 100 orang, akan tetapi tidak semuanya bersedia turun dari mobil karena hujan.
Para pedagang pun hanya bisa gigit jari sambil menunggu tiap pelanggan.

“Beginilah, kalau jumlah konsumen sepi, pedagang hanya bisa pasrah saja menunggu barang dagangannya,” ucap seorang pedagang sandang lainnya sambil menambahkan, selama liburan Nataru omzetnya lumayan besar. Namun, sekarang kanena sepi omzetnya pun menjadi turun.

Kepala Pasar Seni Guwang mengakui, sejak beberapa hari terakhir ini jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke pasar itu menunjukkan penurunan. Suasana pasar pun menjadi lebih sepi lagi saat seringnya turun hujan sekarang ini. Kalaupun ada, wisatawan enggan turun dari mobil untuk membelanjakan uangnya.

Di Sanur Pedagang Baju dan Aksesori Bali “Panen”

Menjelang akhir tahun, beberapa pemilik art shop yang menawarkan busana, tas dan lainnya di Sanur “panen”. Namun demikian, mereka tetap berharap kunjungan wisatawan khususnya wisdom ke tempat mereka meningkat terus.

Menurut salah seorang pemilik art shop di daerah Sanur, Minggu (27/12) kemarin kunjungan wisatawan domestik saat ini mulai ramai, hal tersebut diharapkannya bisa berdampak terhadap peningkatan penjualan di kios miliknya.

Diungkapkan, seperti halnya tahun lalu, di mana saat akhir tahun permintaan aneka suvenir khas Bali seperti baju, celana santai, tas, topi serta lainnya terjadi peningkatan, dibandingkan bulan-bulan biasanya. Rata-rata tiap menjelang akhir tahun, permintaan meningkat hingga 50 persen. Jika biasanya produk yang keluar hanya 10-15 pcs per hari, pada musim liburan akhir tahun permintaan bisa mencapai 20-30 pcs produk busana per hari.

Dikatakan, dengan menawarkan barang-barang yang harganya murah serta terjangkau, barang tentu akan mampu menarik minat pembeli. Aneka barang yang dijual di tempatnya adalah berbagai model kaos Bali, celana santai, tas, dan topi khas Bali yang terbuat dari anyaman bambu dengan harga yang ditawarkan mulai Rp 10 ribu.

Lebih jauh dikatakan, mulai dari celana pendek Rp 15 ribu , topi Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu per pcs, aneka baju kaos khas Bali Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu per pcs. “Dengan harga terjangkau tersebut, tentu konsumen akan tertarik untuk membeli,” ujarnya.

Di tempat terpisah, seorang pemilik Art shop lagi di bilangan Sanur mengungkapkan, sejak seminggu lalu permintaan suvenir seperti kalung dan gelang khas unik di tempatnya sudah tampak terjadi peningkatan, dibandingkan sebelumnya. Namun belum terlalu banyak. Jika sebelumnya permintaan produk gelang dan kalung tersebut rata-rata 10 pcs per hari, saat ini sudah meningkat hingga 15-20 pcs per hari.

Ditambahkan, berbagai aksesori kalung, gelang serta anting-anting berbahan mote, kerang dan bahan alami lainnya ditawarkan. Kalung dan gelang dengan desain unik dijual dengan harga murah mulai Rp 5 ribu hingga Rp 30 ribu, sedangkan untuk aneka anting-antitg ditawarkan Rp 2 ribu- Rp 5 ribu per pcs.

Jatiluwih Akan Menjadi Warisan Budaya Dunia (WBD)

Ternyata bukan perkara mudah bagi tiga objek budaya di Bali kawasan Subak Jatiluwih, Pura Taman Ayun dan daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan mendapatkan predikat Warisan Budaya Dunia (WBD). Untuk sementara waktu, upaya itu masih menemui ganjalan lantaran proposal pengajuan ketiga objek budaya itu sebagai WBD ke UNESCO dinilai belum sempurna.

“Masih ada sejumlah persyaratan yang harus dilengkapi,” ujar Dirjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar Hari Untoro Drajat kepada wartawan seusai membuka Konferensi South and Southest Asia Association for Study of Culture and Religion (SSEASR) Ketiga di Kampus ISI Denpasar, Rabu (3/6/2009) kemarin.

Jatiluwih Tabanan BaliKhusus untuk kawasan Subak Jatiluwih, kata dia, pihak UNESCO meminta agar bentang alam di lokasi itu diperluas. Harus dipastikan kawasan di atas lokasi itu juga termasuk dalam proposal. Sebab, daerah itu merupakan daerah hulu yang jadi sumber mata air di Subak Jatiluwih. “Jika hal itu tidak tercakup dalam proposal, dikhawatirkan kelestarian sumber air akan terganggu dan tidak mampu memenuhi kebutuhan subak sebagai sebuah kawasan pertanian ideal yang sudah eksis sejak abad ke-9,” katanya.

Pejabat pusat itu menegaskan, status world heritage (warisan budaya dunia) memang memiliki sejumlah konsekuensi. Di samping keharusan menjaga lingkuagan di sekitar lokasi warisan, metode pertanian yang dikembangkan di wilayah itu diwajibkan steril dan penggunaaa bahan-bahan kimia. Karena itu, perlu dukungan semua kalangan di Bali termasuk dari kalangan pemerintah guna menyukseskan program mi. Peluang Jatiluwih, Taman Ayun dan DAS Pakerisan ditetapkan sebagai WBD sangat besar.

“Bali lebih cepat kita usulkan karena masyarakat dan pemerintahnya lebih siap,” kataaya dan menambahkan, penyempurnaan proposal paling lambat sudah harus disetorkan ke UNESCO pada September 2009 mendatang.

MoU Restorasi Obyek Wisata Kertagosa Digugat

Memorandum of Understanding (MoU)/kesepakatan kesepahaman restorasi Kertagosa antara Pemkab Klungkung dengan Yayasan Kebudayaan Italia yang ditandatangani Sabtu (30/5/2009) lalu, digugat. Penandatanganan MoU dinilai dipaksakan karena kepentingan tertentu, tanpa kajian matang melibatkan stakeholder. Seperti Yayasan Semarapura Heritage Trust (SHT), Listibya, seniman, puri dan lainnya. Malah, MoU dimungkinkan mentah.

Seluruh stakeholder (puri, Yayasan SHT, dan seniman) yang menyatakan gugatan itu. Mereka berkumpul di Museum Gunarsa dalam rangka mencani langkah terbaik untuk mengawal MoU tersebut, Rabu (3/6/2009) kemarin.
Restorasi yang seharusnya melestarikan jangan sampai merusak keberadaan Kertagosa sebagai cagar budaya garagara MoU tak sempurna. ‘Kami kaget, tahu-tahu ada penandatanganan MoU restorasi Kertagosa,” ujar Ketua Yayasan SHT, I.B. Pangjaya, didampingi wakilnya Nyoman Gunarsa dan Tjok Putra serta sejumlah seniman dalam pertemuan yang juga dihadiri Kadisbudpar, Nengah Wijana.

Mereka menyayangkan, menilai Pemkab Klungkung gegabah. Berani mengambil kesepakatan tanpa pengkajian/ penelitian matang yang berpeluang merugikan Klungkung.
Secara skala, tambah Tjok. Putra, Kertagosa milik pemerintah. Berarti, perbaikannya mesti melibatkan seluruh komponen masyarakat. Secara niskala, Kertagosa masih milik puri, sehingga puri juga harus dilibatkan. Sedangkan SHT, sejak awal membentuk wadah konsisten menyokong pelestarian Kertagosa dan cagar budaya lain. Intinya mereka setuju ada restorasi tetapi teknisnya harus pas. Tidak asal-asalan. “Kalau ada hal yang menyimpang, kami pasti bertindak,” tegasnya.

Kursi Pengadilan
Pengecatan, penetapan bentuk dan teknis lain, harus dijaga kekunoannya. Kalau ada yang perlu dibuka/diperbaiki, teknis membuka dan menyimpan harus jelas. “Jangan sampai, yang asli dibawa ke Italia, Klungkung hanya kebagian yang baru (palsu),” tambah Gunarsa seraya menegaskan jangan sampai restorasi Kertagosa nantinya disalahkan oleh generasi sekarang maupun mendatang. Ia mencontohkan, empat kursi meja tempat Raja Semarapura mengadili bromocorah. Semuanya dicat dan diprada. Itu salah besar. Menghilangkan otentiksitasnya,” tambahnya.

Sementara itu, Kadisbudpar, Nengah Wijana, mengakui tidak melibatkan seluruh stake holder pra-penandatanganan MoU. Kata dia, bukan karena kepentingan tertentu, namun lebih karena alasan waktu yang mendesak antara kedatangan surat penawaran kerja sama dengan proses pembahasan. “Tetapi, sesuai konsep yang dirancang Sekda, dalam MoU sangat jelas disebutkan, sebelum kegiatan restorasi disetujui seluruh pihak terkait, pekerjaan restorasi tidak boleh dilakukan,” katanya.

Pasar Seni Sukawati Kumuh Karena Reklame

Sukawati sebagai kawasan kunjungan wisatawan dengan sasaran barang kerajinan seni Bali. Dampaknya, banyak pula terpasang reklame untuk menarik minat pembeli di seputar Pasar Seni Sukawati dan Pasar Seni Guwang. Banyaknya reklame itu membuat kawasan tersebut menjadi kumuh.

Salah satunya ada di kawasan Banjar Tebuana, Sukawati, Gianyar. Sebuah reklame yang terpasang di pinggir jalan sangat tak bersahabat dengan ikon Gianyar sebagai daerah seni.
Rabu (3/6) kemarin, menurut warga setempat, kondisi reklame yang dipasang ukuran besar sekitar 4 x 5 meter tersebut terbuka setengah dan sudah terjadi sejak minggu lalu. Reklame yang dipasang di tempat yang sangat strategis dan terlihat sekali di pinggir jalan ini membuat kesan kumuh dan semrawut.

Salah satu warga Sukawati menyampaikan, sangat menyayangkan pemasangan reklame tersebut tanpa pengawasan dan pihak terkait. Terlebih lagi pemasangan yang dilakukan oleh pihak investor ini tanpa disertai pemeliharaan. Kondisi reklame yang sudah lusuh, serta rusak ini sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Hal ini tentunya sangat ironis. Di tengah Gianyar sebagai barometer kota seni dan budaya yang menjadi tujuan wisatawan terdapat sejumlah reklame dengan kondisi yang lusuh dan rusak terpampang di hadapan mata. Keluh warga sekitar yang selama mi memperhatikan masalah sosial.

Hasil pengamatannya, di beberapa tempat obyek wisatatas Bali, kerajinan khas Bali selain Sukawati juga terdapat sejumlah kasus yang serupa. Bukan saja reklame jenis spanduk, plastik serta baliho. Beberapa reklame permanen yang berukuran raksasa, dalam hal ini juga agar disikapi segera oleh Pemkab Gianyar. Mengingat, konteks reklame yang dipasang lebih banyak tidak memasukkan unsur seni dan budaya Gianyar. Meski sebagai tempat promosi, semestinya materi dalam reklame tersebut juga disisipkan pesan seni dan budaya yang menjadi jati diri Gianyar.