Perajin “ Egg Painting” Beralih ke Telur Kayu
Merebaknya kasus flu burung berdampak pada keberadaan kerajinan egg painting (lukisan telur). Produk kerajinan lukisan telur ini mendapatkan larangan masuk ke beberapa negara asal wisatawan. Kondisi yang demikian membuat para perajin kehilangan pasar. Kini perajin seni lukisan telur harus mengalihkan objek kerajinan mereka dengan menggunakan kayu yang dibuat menyerupai telur.
Di samping itu, keluhan lain yang kini dihadapi oleh para perajin hingga membuat mereka menggunakan telur dari kayu ini, karena kian langkanya keberadaan telur burung unta. Namun untuk lukisan telur yang ukurannya lebih kecil masih menggunakan telur angsa maupun itik. “Hasil kerajinan dari telur tersebut mendapat larangan masuk ke negara asal wisatawan” kata salah satu perajin lukisan telur asal Banjar Dauh Uma, Kelurahan Bitera, Wayan Budiarta.
Bagi warga Banjar Dauh Uma, kerajinan lukis telur telah menjadi bagian aktivitas dari masyarakat setempat. Kurang lebih 25 persen dari jumlah warga yang ada merupakan perajin lukis telur. Bahkan. kerajinan lukis telur ini juga dilakukan oleh anak-anak guna memperoleh tambahan uang jajan untuk ke sekolah.
Perkembangan seni lukis telur. mulai digeluti warga Dauh Uma mulai tahun 80- an. Berawal dari adanya seniman lukis dari Banjar Dauh Uma, Kadek Suta yang kenal dengan seorang wisatawan yang memesan lukisan dengan telur. Sejak saat itulah, kerajinan seni lukis telur mulai menggeliat. Pangsa pasarnya pun keluar negeri. Mulai dari Jerman, Amerika, serta Australia dan beberapa negara lainnya. Namun sejak kasus flu burung (AI) merebak, ekspor lukis telur mengalami penurunan. ‘Wisatawan yang berkunjung tidak diperkenankan untuk membawa telur unggas tersebut ke negaranya,” jelasnya.
Kendati demikian, hal itu tak menyurutkan hasil kerajinan dari warga Banjar Dauh Uma, Bitera. Dengan menggunakan kayu albesia para perajin mengolahnya menyerupai telur yang kemudian diberikan lukisan, Hasilnya, tak jauh beda dengan lukisan menggunakan telur asli. Dari segi harga, tentunya lukisan telur kavu lebih murah dibandingkan dengan lukisan telur aslinya, tetapi juga tergantung dari ukuran telur itu sendiri.
Sementara penghasilan mereka rata-rata berkisar Rp 50 ribu hingga 100 ribu. Sedangkan saat ini, kerajinan lukisan telur dipasarkan di Kuta, Sukawati dan beberapa objek wisata lainya di Bali.
