Kerajinan Ate Desa Seraya, Karangasem
Sepintas kerajinan ate mirip dengan rotan. Pohon/bahan ate bisa ditemukan di hutan-hutan atau di perbukitan termasuk di Bali. Namun, ate yang dihasilkan di Bali kecil-kecil. Karenanya, para pengrajin ate mendatangkan bahan dari pulau Jawa, Flores, dan Sumatra. Satu pesel (ikat) bahan ate berisi 100 batang dibeli seharga Rp 18.000 sampai 140.000, tergantung kualitasnya.
Tak seperti dulu, saat ini masyarakat Desa Seraya, Karangasem mengerjakan kerajinan ate yang diwarisi secara turun temurun ini, hanya untuk mengisi waktu luang atau selingan. Sebagian besar profesi mereka sebagai petani dan peternak.
Proses pengerjaan ate melalui beberapa tahapan. Pertama, batang ate yang berukuran agak besar di belah kecil-kecil untuk dianyam menjadi beberapa produk seperti tas, tempat buah, tatakan gelas, ayunan bayi, tempat cotton bud (kapas tangkai), dll. Kedua, ate yang sudah dibelah sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan itu, dihaluskan menggunakan alat sederhana yakni tutup botol yang telah dilubangi. “Batang ate tinggal dimasukkan ke lubang tutup botol,” ujar Komang Latra (43), pengrajini sekaligus pengepul kerajinan ate di Banjar Gambang, Desa Seraya Tengah, Karangasem ini. Ketiga, ate yang sudah dihaluskan, dikeringkan selama 5 hari untuk mendapatkan warna coklat yang bagus, dilanjutkan peng-ovenan selama 2 hari.
Tahap akhir, pewarnaan. “Proses peng-ovenan dan finishing biasanya dikerjakan di Desa Tenganan, karena wisatawan lebih banyak datang ke sana. Warna disesuaikan dengan permintaan pemesan,” kata Latra.
Sebagai pengepul, Latra dan istrinya Nyoman Catri tak hanya menerima begitu saja hasil dari para pengrajin. Produk kerajinan ini lantas dipercantik dengan menambahkan dekorasi dari bahan kerang, batok kelapa, kulit, tali dan kayu. Kerajinan ini sebagian dipasarkan ke Ubud, Gianyar dan disukai wisatawan Jepang. “Ada juga wisatawan yang langsung datang ke sini. Sekarang, wisatawan Amerika Serikat sudah mulai tertarik kerajinan ate ini,” ujar Latra.
Harga yang ditawarkan bervariasi. Produk yang paling murah berupa tatakan gelas yang masih mentah dijual Rp 12.000 perbiji. Sedangkan produk tas yang paling banyak digemari wisatawan harganya bisa mencapai Rp 600.000. Harga yang ditawarkan ini sebanding dengan proses pengerjaannya yang memerlukan waktu lebih dari seminggu. Bayangkan, untuk membuat satu tas mangkok saja diperlukan waktu 4 hari untuk proses penganyaman, belum proses berikutnya.
Kerajinan ate dijual di beberapa pasar di desa Seraya. “Namun, pasar di Seraya Tengah yang paling ramai,” ujar Nyoman Catri sembari menambahkan dekorasi batok kelapa pada tas sundung. Uniknya lagi, produk ate ini hanya dipasarkan tiap pasah (Tri Wara) yang datangnya tiga hari sekali. Itu pun pagi-pagi, mulai pukul 03.00 sampai 05.00. Setelah itu, pasar ini beralih menjadi pasar buah. Jika ada kegiatan besar di kantor Kepala Desa Seraya, kerajinan ate buatan masyarakat kerap dipamerkan. Begitu pun saat lomba desa, kerajinan ini menjadi andalan masyarakat Seraya, Karangasem.
