Pasar Seni Sukawati Kumuh Karena Reklame
Sukawati sebagai kawasan kunjungan wisatawan dengan sasaran barang kerajinan seni Bali. Dampaknya, banyak pula terpasang reklame untuk menarik minat pembeli di seputar Pasar Seni Sukawati dan Pasar Seni Guwang. Banyaknya reklame itu membuat kawasan tersebut menjadi kumuh.
Salah satunya ada di kawasan Banjar Tebuana, Sukawati, Gianyar. Sebuah reklame yang terpasang di pinggir jalan sangat tak bersahabat dengan ikon Gianyar sebagai daerah seni.
Rabu (3/6) kemarin, menurut warga setempat, kondisi reklame yang dipasang ukuran besar sekitar 4 x 5 meter tersebut terbuka setengah dan sudah terjadi sejak minggu lalu. Reklame yang dipasang di tempat yang sangat strategis dan terlihat sekali di pinggir jalan ini membuat kesan kumuh dan semrawut.
Salah satu warga Sukawati menyampaikan, sangat menyayangkan pemasangan reklame tersebut tanpa pengawasan dan pihak terkait. Terlebih lagi pemasangan yang dilakukan oleh pihak investor ini tanpa disertai pemeliharaan. Kondisi reklame yang sudah lusuh, serta rusak ini sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Hal ini tentunya sangat ironis. Di tengah Gianyar sebagai barometer kota seni dan budaya yang menjadi tujuan wisatawan terdapat sejumlah reklame dengan kondisi yang lusuh dan rusak terpampang di hadapan mata. Keluh warga sekitar yang selama mi memperhatikan masalah sosial.
Hasil pengamatannya, di beberapa tempat obyek wisata
selain Sukawati juga terdapat sejumlah kasus yang serupa. Bukan saja reklame jenis spanduk, plastik serta baliho. Beberapa reklame permanen yang berukuran raksasa, dalam hal ini juga agar disikapi segera oleh Pemkab Gianyar. Mengingat, konteks reklame yang dipasang lebih banyak tidak memasukkan unsur seni dan budaya Gianyar. Meski sebagai tempat promosi, semestinya materi dalam reklame tersebut juga disisipkan pesan seni dan budaya yang menjadi jati diri Gianyar.
