Archive for » June, 2009 «

Pedagang Pasar Seni Sukawati Membandel

Membandelnya para pedang Pasar Seni Sukawati dalam menjajakan barang dagangannya membuat pihak Pasar Seni Sukawati melakukan penertiban dengan melihatkan Satpol PP Gianyar. Ratusan barang kerajinan berupa lukisan, kerajinan layang-lavang, sarung, keranjang dan celana serta tas milik pedagang diamankan petugas Selasa (16/6/2009) kemarin.

Seizin Kakan Satpol PP, Rasi Operasional A.A. Partama menyebutkan penyitaan barang dagangan yang dilakukan pihaknya untuk memberikan pembinaan bagi para pedagang Pasar Seni Sukawati. Penertiban pedagang pasar seni ini dilakukan berserta dengan petugas pengamanan pasar, atas permohonan dan pengelola Pasar Seni Sukawati.

Kerajinan Tas Bali

Kerajinan Tas Bali

Sepuluh pedagang disemprit petugas karena tetap membandel dengan menjajakan barang dagangannya di lorong-lorong yang semestinya menjadi jalan bagi para pengunjung Pasar Seni Sukawati. Hal ini tentunya memberikan kesan kumuh dan semrawut terhadap Pasar Seni Sukawati. Penertiban yang dilakukan kali ini menjelang musim liburan, di mana Pasar Seni sukawati menjadi objek kunjungan wisatawan.

Partama menjelaskan dari ratusan barang yang disita tersebut, di antaranya 35 lukisan. 44 kerajinan layangiayang, 10 kerajinant as, 6 kerajinan keranjang, 36 helai celana panjang dan 18 lembar kain sarung pantai. “Semua barang bukti ini masih kami amankan di kantor,” jelasnya.

Sementara selama hari liburan, untuk menjaga kenyamanan dan ketertiban pedagang Pasar Seni Sukawati juga ditempatkan dua personel satpol PP yang bekerja sama dengan pengamanan pasar melakukan penertiban barang-barang pedagang menghindari kesan kumuh.

Patung Ngurah Rai di Kawasan Bandara Diresmikan

Setelah dikerjakan selama lima bulan, patung pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai di jalan masuk ke Bandara Ngurah Rai, Tuban, Kuta Bali, Rabu (3/6) kemarin akhirnya diresmikan. Peresmian dilakukan oleh Menteri Perhubungan Jusman Syafli Djamal. Peristiwa ini terbilang istimewa karena dihadiri pula oleh Nyonya I Gusti Ngurah Rai dan kerabat. Nyonya Ngurah Rai datang ke lokasi dengan menggunakan kursi roda.

Peresmiannya ditandai dengan penekanan sirene dan pengguntingan pita di bundaran jalan baru I Gusti Ngurah Rai, Tuban. Hadir pula dalam kesempatan itu Pangdam IX/ Udayana Mayjen Hotmangaraja Panjaitan, Dirut PAP I (Persero) Bambang Darwoto, Wabup Badung Ketut Sudikerta, Wakil Ketua DPRD Bali Adi Putra, GM PAP I Bandara Ngurah Rai Heru Legowo dan undangan lainnya.
Menhub Syafii Djamal mengatakan, pembangunan patung I Gusti Ngurah Rai sebagai bentuk penghormatan kepada sang pahlawan atas jasanya kepada bangsa dan negara. Sebelumnya bandara kebanggaan Bali juga memakai nama mantan Pimpinan Resimen Tentara RI Sunda Kecil itu. “Jasa-jasa beliau kita kenang dan spirit hidupnya menjadi teladan bagi kita untuk mengabdi kepada bangsa dan negara,” ujar Menhub.

Menurut Dirut PAP I (Persero) Bambang Darwoto, sosok I Gusti Ngurah Rai terkenal sebagai pahlawan yang gagah berani. “Kegagahan dan keberanian beliau bukanlah kiasan tetapi dalam arti yang sebenarnya. Artinya beliau sungguh-sungguh memiliki sikap yang terpuji. Khususnya kegigihan dalam menegakkan kehormatan bangsa. Izinkan kami untuk mengungkapkan rasa bangga kepada beliau,” ujar Bambang.

Pengerjaan patung Ngurah Rai dimulai 5 Desember 2008 dan selesai 14 April 2009. Tinggi patung 8 meter dengan landasan 11,45 meter sehingga total tinggi monumennya 19,45 meter. Monumen yang menjadi landmark baru bagi Bandara Ngurah Rai ini dihiasi 17 buah air mancur. “Semua unsur ini memiliki filosofi Hari Kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 1945 (17-8-1945),” ujar GM PAP I Bandara Ngurah Rai, Heru Legowo.

Serangkaian peresmian patung NgurahRai, kemarin Menhub Syafli Jamal juga meresmikan Ground Breaking Pembangunan Terminal Internasional Bandara Ngurah Rai. Menurut rencana, pembangunan terminal akan berlangsung akhir 2009 dan selesai selama 2,5 tahun. Pembangunan terminal internasional dan fasilitas pendukungnya diperkirakan menelan biaya selcitar Rp 1,4 triliun.

Ciung Wanara
I Gusti Ngurah Rai lahir tahun 1917 dan gugur sebagai kusuma bangsa 20 November 1946 di Desa Marga, Tabanan. Sebelum gugur, jabatannya Pucuk Pimpinan Resimen Tentara Republik Indonesia (TRI) Sunda Kecil (Bali dan Nusa Tenggara) dengan pangkat letnan kolonel. Beliau juga dikenal sebagai Pimpinan Markas Besar Umum Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (MBU DPRI) Sunda Kecil.

Sebagai komandan, Ngurah Rai sangat tegas dan tak gentar menghadapi pasukan NICA yang persenjataannya jauh lebih canggih. Anak buah sangat hormat dan respek padanya. Bersama seluruh pasukan Ciung Wanara yang berjumlah 96 orang, di hari yang kelabu 20 Novemmber 1946 di Desa Marga Tabanan, I Gusti Ngurah Rai yang lahir tahun 1917 gugur sebagai kusuma bangsa.

Category: sejarah bali  2 Comments

Jatiluwih Akan Menjadi Warisan Budaya Dunia (WBD)

Ternyata bukan perkara mudah bagi tiga objek budaya di Bali kawasan Subak Jatiluwih, Pura Taman Ayun dan daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan mendapatkan predikat Warisan Budaya Dunia (WBD). Untuk sementara waktu, upaya itu masih menemui ganjalan lantaran proposal pengajuan ketiga objek budaya itu sebagai WBD ke UNESCO dinilai belum sempurna.

“Masih ada sejumlah persyaratan yang harus dilengkapi,” ujar Dirjen Sejarah dan Purbakala Depbudpar Hari Untoro Drajat kepada wartawan seusai membuka Konferensi South and Southest Asia Association for Study of Culture and Religion (SSEASR) Ketiga di Kampus ISI Denpasar, Rabu (3/6/2009) kemarin.

Jatiluwih Tabanan BaliKhusus untuk kawasan Subak Jatiluwih, kata dia, pihak UNESCO meminta agar bentang alam di lokasi itu diperluas. Harus dipastikan kawasan di atas lokasi itu juga termasuk dalam proposal. Sebab, daerah itu merupakan daerah hulu yang jadi sumber mata air di Subak Jatiluwih. “Jika hal itu tidak tercakup dalam proposal, dikhawatirkan kelestarian sumber air akan terganggu dan tidak mampu memenuhi kebutuhan subak sebagai sebuah kawasan pertanian ideal yang sudah eksis sejak abad ke-9,” katanya.

Pejabat pusat itu menegaskan, status world heritage (warisan budaya dunia) memang memiliki sejumlah konsekuensi. Di samping keharusan menjaga lingkuagan di sekitar lokasi warisan, metode pertanian yang dikembangkan di wilayah itu diwajibkan steril dan penggunaaa bahan-bahan kimia. Karena itu, perlu dukungan semua kalangan di Bali termasuk dari kalangan pemerintah guna menyukseskan program mi. Peluang Jatiluwih, Taman Ayun dan DAS Pakerisan ditetapkan sebagai WBD sangat besar.

“Bali lebih cepat kita usulkan karena masyarakat dan pemerintahnya lebih siap,” kataaya dan menambahkan, penyempurnaan proposal paling lambat sudah harus disetorkan ke UNESCO pada September 2009 mendatang.

MoU Restorasi Obyek Wisata Kertagosa Digugat

Memorandum of Understanding (MoU)/kesepakatan kesepahaman restorasi Kertagosa antara Pemkab Klungkung dengan Yayasan Kebudayaan Italia yang ditandatangani Sabtu (30/5/2009) lalu, digugat. Penandatanganan MoU dinilai dipaksakan karena kepentingan tertentu, tanpa kajian matang melibatkan stakeholder. Seperti Yayasan Semarapura Heritage Trust (SHT), Listibya, seniman, puri dan lainnya. Malah, MoU dimungkinkan mentah.

Seluruh stakeholder (puri, Yayasan SHT, dan seniman) yang menyatakan gugatan itu. Mereka berkumpul di Museum Gunarsa dalam rangka mencani langkah terbaik untuk mengawal MoU tersebut, Rabu (3/6/2009) kemarin.
Restorasi yang seharusnya melestarikan jangan sampai merusak keberadaan Kertagosa sebagai cagar budaya garagara MoU tak sempurna. ‘Kami kaget, tahu-tahu ada penandatanganan MoU restorasi Kertagosa,” ujar Ketua Yayasan SHT, I.B. Pangjaya, didampingi wakilnya Nyoman Gunarsa dan Tjok Putra serta sejumlah seniman dalam pertemuan yang juga dihadiri Kadisbudpar, Nengah Wijana.

Mereka menyayangkan, menilai Pemkab Klungkung gegabah. Berani mengambil kesepakatan tanpa pengkajian/ penelitian matang yang berpeluang merugikan Klungkung.
Secara skala, tambah Tjok. Putra, Kertagosa milik pemerintah. Berarti, perbaikannya mesti melibatkan seluruh komponen masyarakat. Secara niskala, Kertagosa masih milik puri, sehingga puri juga harus dilibatkan. Sedangkan SHT, sejak awal membentuk wadah konsisten menyokong pelestarian Kertagosa dan cagar budaya lain. Intinya mereka setuju ada restorasi tetapi teknisnya harus pas. Tidak asal-asalan. “Kalau ada hal yang menyimpang, kami pasti bertindak,” tegasnya.

Kursi Pengadilan
Pengecatan, penetapan bentuk dan teknis lain, harus dijaga kekunoannya. Kalau ada yang perlu dibuka/diperbaiki, teknis membuka dan menyimpan harus jelas. “Jangan sampai, yang asli dibawa ke Italia, Klungkung hanya kebagian yang baru (palsu),” tambah Gunarsa seraya menegaskan jangan sampai restorasi Kertagosa nantinya disalahkan oleh generasi sekarang maupun mendatang. Ia mencontohkan, empat kursi meja tempat Raja Semarapura mengadili bromocorah. Semuanya dicat dan diprada. Itu salah besar. Menghilangkan otentiksitasnya,” tambahnya.

Sementara itu, Kadisbudpar, Nengah Wijana, mengakui tidak melibatkan seluruh stake holder pra-penandatanganan MoU. Kata dia, bukan karena kepentingan tertentu, namun lebih karena alasan waktu yang mendesak antara kedatangan surat penawaran kerja sama dengan proses pembahasan. “Tetapi, sesuai konsep yang dirancang Sekda, dalam MoU sangat jelas disebutkan, sebelum kegiatan restorasi disetujui seluruh pihak terkait, pekerjaan restorasi tidak boleh dilakukan,” katanya.

Pasar Seni Sukawati Kumuh Karena Reklame

Sukawati sebagai kawasan kunjungan wisatawan dengan sasaran barang kerajinan seni Bali. Dampaknya, banyak pula terpasang reklame untuk menarik minat pembeli di seputar Pasar Seni Sukawati dan Pasar Seni Guwang. Banyaknya reklame itu membuat kawasan tersebut menjadi kumuh.

Salah satunya ada di kawasan Banjar Tebuana, Sukawati, Gianyar. Sebuah reklame yang terpasang di pinggir jalan sangat tak bersahabat dengan ikon Gianyar sebagai daerah seni.
Rabu (3/6) kemarin, menurut warga setempat, kondisi reklame yang dipasang ukuran besar sekitar 4 x 5 meter tersebut terbuka setengah dan sudah terjadi sejak minggu lalu. Reklame yang dipasang di tempat yang sangat strategis dan terlihat sekali di pinggir jalan ini membuat kesan kumuh dan semrawut.

Salah satu warga Sukawati menyampaikan, sangat menyayangkan pemasangan reklame tersebut tanpa pengawasan dan pihak terkait. Terlebih lagi pemasangan yang dilakukan oleh pihak investor ini tanpa disertai pemeliharaan. Kondisi reklame yang sudah lusuh, serta rusak ini sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Hal ini tentunya sangat ironis. Di tengah Gianyar sebagai barometer kota seni dan budaya yang menjadi tujuan wisatawan terdapat sejumlah reklame dengan kondisi yang lusuh dan rusak terpampang di hadapan mata. Keluh warga sekitar yang selama mi memperhatikan masalah sosial.

Hasil pengamatannya, di beberapa tempat obyek wisatatas Bali, kerajinan khas Bali selain Sukawati juga terdapat sejumlah kasus yang serupa. Bukan saja reklame jenis spanduk, plastik serta baliho. Beberapa reklame permanen yang berukuran raksasa, dalam hal ini juga agar disikapi segera oleh Pemkab Gianyar. Mengingat, konteks reklame yang dipasang lebih banyak tidak memasukkan unsur seni dan budaya Gianyar. Meski sebagai tempat promosi, semestinya materi dalam reklame tersebut juga disisipkan pesan seni dan budaya yang menjadi jati diri Gianyar.

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!